HTI Press, Banda Aceh. Meskipun Amerika Serikat (AS) sering terlibat dalam berbagai peristiwa politik penting di dunia. Namun, tidak semua peristiwa Arab Spring yang terjadi di Timur Tengah itu diprakarsai oleh AS. Negara adidaya itu hanya memanfaatkan kondisi tersebut demi kepentingannya. Tema besar inilah yang diangkat oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Banda Aceh dalam Diskusi Publik Kajian Strategis Masyarakat Aceh (KASATMATA) di Aula Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh, pada Ahad (22/9/2013) kemarin.

Di Mesir, selain memiliki kepentingan politis di balik penggulingan Presiden Muhammad Mursi, AS juga memiliki kepentingan bisnis terkait Teruzan Suez. Selain itu, AS juga terlibat dalam pendanaan militer Mesir. Milyaran dana telah digelontorkan kepada militer. Tak hanya itu, militer Mesir melihat Mursi dapat menghancurkan bisnis mereka yang telah di bangun selama bertahun-tahun.

Ada fakta menarik lainnya yang diungkap di dalam diskusi publik kali ini, bahwa selama umat Islam memakai sistem yang ada untuk memimpin dan menjalankan syariat Islam, dalam hal ini Demokrasi, maka selamanya umat Islam akan mengulangi nasib yang sama. Yakni akan dihancurkan seperti yang terjadi di Aljazair dan Mesir saat Gamal Abdul Naseer berkuasa.

“Demokrasi diciptakan bukan lah untuk Islam. Ketika Islam mengancam demokrasi, maka ia akan dihancurkan. Kasus yang sama terjadi di Mesir,” ungkap Ketua DPD I HTI Provinsi Aceh, Ferdiansyah Sofyan. Beliau kemudian menghimbau kepada para peserta untuk bersama-sama mengganti sistem demokrasi yang telah bobrok dengan sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT, Syariat Islam yang diterapkan dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. []MI HTI Banda Aceh

Source: Religi