Lembaga Pengawas Hak Asasi Manusia Internasional/Human Right Watch (HRW) menginvestigasi pembubaran aksi duduk Ikhwanul Muslimin di Rabba al Adawiya di Nasr City dan Lapangan Nahda di Giza.

HRW mewawancarai 41 pengunjukrasa, dokter dan warga sekitar dari kedua area tersebut. HRW juga mengunjungi pusat medis Raba al Adawiya selama pembubaran, rumah sakit, dan pemakaman di Nasr City dan Giza.

Dikutip dari laman hrw.org, lembaga tersebut mengungkap, kekerasan yang paling nyata adalah pada saat aksi duduk di Raba al Adawiya. HRW telah menemukan indikasi bahwa penggunaan kekuatan berlebihan saat mengusir aksi duduk.

Pasukan bersenjata tersebut pun dengan ilegal, membunuh para pengunjukrasa yang tidak bersenjata. Termasuk seorang demonstran yang sudah memperlihatkan tanda menyerah karena meletakkan tangan di kepala.

Empat warga menginformasikan kepada HRW, pada 6.30 pagi, petugas keamanan dengan menggunakan pengeras suara, meminta kepada para pengunjukrasa untuk meninggalkan aksi duduk dengan keluar melalui jalan Nasr.

Sekitar 10 hingga 15 menit kemudian, pada 06.45, polisi huru hara merangsek masuk ke kamp pengunjukrasa dengan cepat. Dari berbagai penjuru, terdengar suara tembakan gas air mata dan peluru karet. Segera setelahnya, peluru tajam mulai terdengar.

HRW tak dapat memastikan apakah peluru tajam datang dari pasukan keamanan atau pengunjukrasa. Akan tetapi, HRW tak menemukan bukti adanya tembakan dari arah demonstran yang bisa membenarkan polisi menggunakan kekuatan mematikan melawan demonstran tak bersenjata.

Dua wartawan yang meliput sejak awal kejadian, juga pengunjukrasa menginformasikan kepada HRW kalau mereka tak bisa berjalan ke pintu keluar usai polisi mulai menembak gas air mata. Mereka sulit bergerak karena banyaknya tembakan yang datang dari arah pasukan keamanan sementara puluhan perempuan dan anak-anak bersembunyi di dalam masjid.

Para saksi mata dan rekaman video dari demonstran, juga pengamatan dari staf HRW menunjukkan mayoritas pengunjukrasa memang tak bersenjata. Akan tetapi, ada beberapa yang menembakkan senjata kepada pasukan keamanan. Di sisi lain, saksi mata yang diwawancarai HRW dan cuplikan video di YouTube memperlihatkan bagaimanan polisi membunuh penunjukrasa yang tidak terlibat dalam aksi kekerasan.

Rekaman video memperlihatkan seorang lelaki tewas ditembak saat tubuhnya tengah terluka. Pengunjukrasa Ahmad Gamal mengungkapkan, pada satu titik dia melihat tiga orang tampak berdarah dan cedera bergegas menuju salah satu panggung di kamp.

Saat dia mendengar adanya suara tembakan, mereka lantas jatuh ke tanah. Kemudian, Gamal memindahkan dua diantara tiga mayat tersebut dari lokasi sebelumnya.

Rekaman lainnya jelas menunjukkan tiga pria tak bersenjata berjongkok dekat sisa-sisa panggung utama di Raba al Adawiya untuk bersembunyi dari tembakan gencar polisi Mesir. Rekaman itu menunjukkan dua diantaranya ditembak dan tampaknya dibunuh. Sedangkan, pria ketiga ditembak di kaki.

Beberapa pembunuhan tampaknya disengaja bahkan menargetkan orang-orang yang tidak menimbulkan ancaman nyata kepada polisi pada saat mereka ditembak. Seorang warga mengatakan kepada HRW bahwa dia melihat polisi mengeksekusi seorang pria yang berjalan di depan petugas. Sementara, tangan pria itu berada di kepalanya. (republika.co.id, 20/8)

Source: Religi