Sumpah Pemuda selalu menjadi momen penting yang mengingatkan akan vitalnya peran pemuda terhadap perubahan dan perbaikan di negeri ini, termasuk kaum mudinya. Generasi muda adalah gambaran masa depan sebuah negeri, ketika potretnya bersinar maka masa depan negeri itupun hampir dipastikan akan bersinar, namun ketika potretnya suram tentu suram pulalah masa depan negeri tersebut. Di sisi lain potret sebuah generasi tidak bisa dilepaskan dari bagaimana wajah kaum pemudinya, seperti yang saat ini tengah dibincangkan oleh dunia; kisah seorang gadis Pakistan berusia 15 tahun, Malala Yousufzai yang belakangan kian populer sebagai ikon pendidikan anak perempuan.

Lewat eksploitasi kisah Malala ini, Negeri-negeri Barat dan jaringan medianya berupaya membangun narasi bahwa penerapan Syariat Islam telah menciptakan kehidupan yang mengerikan dan masa depan suram bagi pemudi dan generasi, mereka sangat gencar mengampanyekan misi sekuler untuk mendiskreditkan Syariat Islam dari kasus Malala tersebut. Padahal di banyak negeri Muslim termasuk Indonesia, sistem kapitalisme demokrasi yang diimpor dari Barat-lah sejatinya yang menjadi biang diskriminasi dan eksploitasi terhadap jutaan anak-anak perempuan. Fakta teramputasinya hak-hak pendidikan tinggi 95% anak perempuan Indonesia, jutaan perempuan Indonesia yang masih menderita buta aksara, hampir empat juta generasi muda menjadi korban narkoba, jutaan anak dan remaja perempuan harus banting tulang mengais kue ekonomi, terpaksa putus sekolah karena biaya pendidikan yang mahal dan menjadi pekerja murah di lingkungan yang tidak terjamin keamanannya, semua ini adalah gambaran fakta yang sangat nyata dalam kehidupan negara yang katanya menerapkan dan memuja sistem demokrasi. Dengan demikian, janji manis kesetaraan dan kebebasan yang ditawarkan oleh sistem Demokrasi Kapitalisme bagi jutaan anak perempuan di dunia, sejatinya adalah pembodohan. Ketimpangan akses pendidikan dalam sistem kapitalisme demokrasi yang sekuler telah sangat jelas menciptakan jurang kebodohan pada kaum mudi Islam.

Sesungguhnya potret Islam yang bersinar berusaha terus ditutup-tutupi oleh Barat, prestasi Islam berabad-abad dalam memajukan pendidikan anak perempuan berusaha mereka kubur dengan satu cuplikan cerita seorang gadis bernama Malala. Padahal Islam menawarkan jaminan hak-hak pendidikan generasi dan memberikan kemuliaan tertinggi kepada perempuannya. Sejarah mencatat Universitas bergengsi al Azhar telah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk mengajar di level pendidikan tinggi jauh berabad sebelum negeri-negeri di Barat memiliki universitas, dan bahkan proporsi dosen perempuan di banyak perguruan tinggi Islam klasik lebih tinggi daripada di banyak universitas-universitas Barat hari ini.

Oleh karena itu di momen berharga ini kami memanggil anda, wahai muslimah muda Indonesia! untuk berikrar bersama menolak kepalsuan sistem demokrasi kapitalisme dan untuk berjuang bersama mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Divisi Pergerakan Mahasiswa Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia mempersembahkan :

KAMPANYE MUSLIMAH MUDA INDONESIA

MENOLAK KAPITALISME DEMOKRASI & MEMPERJUANGKAN KHILAFAH ISLAM

Rangkaian Kegiatan

1) Musyawarah Besar (Mubes) Aktivis Pemudi se-Jakarta Raya

Tempat : Ruang Besar HPT IPB Baranangsiang, Bogor – Indonesia

Hari/Tanggal: Ahad, 27 Oktober 2013

Pukul : 08.30 – 16.00 wib

Tema : Pendidikan Pemudi dalam Sistem Kapitalisme Demokrasi: Pencerdasan atau Pembodohan?

*Contact person: Fasih (0857 1044 9377)

2) Aksi Nasional Pemudi Islam

Tema aksi : “Ikrar Muslimah Muda Indonesia : Menolak Kapitalisme Demokrasi & Memperjuangkan Khilafah Islam”

Tempat : Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta – Indonesia

Hari/Tanggal : Senin, 28 Oktober 2013

Pukul : 09.00 wib – selesai

*Contact person: Ana (0857 1098 3042)

[]

Source: Religi