Sebagaimana diberitakan oleh www.middleastmonitor.com (20/8) , 38 tahanan terbunuh karena menghirup gas pada saat truk-truk polisi yang membawa mereka diantara 600 tahanan lain (sebagian adalah tahanan Ikhwanul Muslimin) pada hari Minggu. 

Truk-truk tahanan Mesir memiliki penampilan yang menyeramkan: berwarna biru gelap, tinggi dan berjendela kecil di atasnya. Lubang-lubang kecil itupun sebagian terhalang oleh logam yang saling terkait.

Saat semua hal di Mesir semakin terpolarisasi, ada sejumlah cerita yang muncul dari insiden tersebut.

Juru bicara Kementrian Dalam Negeri Hany Abdel Latif mengatakan bahwa para tahanan itu tewas setelah mengambil menyandera polisi di dalam truk itu. Mereka kemudian mati lemas setelah menghirup gas air mata, yang ditembakkan ke truk untuk membubarkan mereka dan membebaskan petugas kepolisian.

Media pemerintah – yang sepenuhnya memihak Al Sisi sejak kekerasan dimulai – melaporkan bahwa para tahanan berusaha kabur sehingga ditembak pada saat mencoba keluar dari truk.

Namun, pengacara HAM, Osama al-Mahdy, menceritakan versi yang berbeda dari peristiwa itu. Setelah mengunjungi kamar mayat dan melihat mayat-mayat itu dia mengatakan kepada Daily News Mesir bahwa tidak ada tanda-tanda peluru pada mayat dan wajah-wajah mereka yang membiru nampaknya diakibatkan oleh sesak napas.

Reuters melaporkan dari sumber resmi yang mengatakan kepada mereka 38 orang itu tewas karena sesak napas di truk yang penuh sesak dan pemimpin Aliansi Anti-Coup Mesir telah mengatakan mayat-mayat di kamar mayat menunjukkan tanda-tanda kekerasan.

‘Mati lemas’ adalah insiden terbaru dalam gelombang kekerasan yang dimulai Rabu lalu ketika pasukan keamanan menyerbu demonstrasi pro-Morsi, membunuh para pendukungnya yang menuntut pemulihan kekuasaan Morsi.

Sejak itu, dalam serangkaian insiden mematikan, setidaknya ada 800 terbunuh seperti dikutip di media. The Observer EuroMid untuk Hak Asasi Manusia telah mendokumentasikan 1.215 terbunuh, 8.000 luka-luka dan 1.500 hilang. Ikhwanul Muslimin mengatakan jumlah yang jauh lebih tinggi.

Nasib para korban adalah mengerikan sebagaimana kejadian-kejadian yang mendahuluinya:  tercekik karena menghirup gas air mata, dibakar hidup-hidup di tenda-tenda, peluru tajam yang ditembakkan oleh para penembak jitu berseragam militer yang menembak dari atap dan menargetkan wartawan dan rumah sakit.

Satu video menunjukkan para pemrotes meluncur menuruni tali atau kawat logam untuk melarikan diri dari sebuah jembatan dimana peluru tajam sedang ditembakkan.

Laporan lain menggambarkan bahwa mereka menuliskan namanya di lengan mereka agar mudah dikenali di kamar mayat jika mereka tewas ditembak mati oleh tentara.

Sebuah video yang diposting di You Tube mencatat seorang saksi mata, yang tidak berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin atau partai politik lainnya, menyaksikan tentara membuang mayat-mayat ke tempat pembuangan sampah dan menuangkan deterjen ke atas tubuh-tubuh mereka.

Dengan jumlah korban tewas di Mesir sejak penumpasan dimulai pada hari Rabu lalu, kekerasan terbukti telah meningkat, bukan mereda.

Para analis memprediksi lebih banyak pertumpahan darah, tetapi sebagaimana konflik di seluruh dunia, yang menyaksikan kejadian berada dalam bahaya untuk mengetahui jumlah korban sebenarnya. Al Sisi tampaknya tidak peduli atas apa yang dipikirkan masyarakat internasional tentang dia.

Pada bulan Juli tahun ini, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa lebih dari 2.000 orang telah tewas di Suriah sejak awal Ramadhan. Sekitar 100.000 telah tewas sejak dimulainya konflik. Tragisnya, revolusi melawan Assad telah menjadi seperti latar belakang kebisingan. (rz)

Source: Religi