HTI Press. Berdiri di atas podium menghadap sekitar 500 ulama yang memenuhi ruangan, sedangkan di belakangnya duduk berjejer sepuluh ulama dan tokoh pergerakan Islam, dengan suara bas yang keras dan lantang KH Shoffar Mawardi membacakan tausyiah (rekomendasi) kepada kaum Muslimin untuk menolak rencana kedatangan Presiden Amerika Barrack Obama ke Indonesia.

Wa bil khusus para ashabul fa’aliyah dan para jenderal… untuk bersama-sama menolak kedatangan Barack Obama!” pekiknya penuh wibawa, Rabu (24/9) malam di Auditorium Adhiyana, Gedung Wisma Antara, Jakarta Pusat.

Di gedung yang hanya terhalang beberapa gedung lainnya dari Kedutaan Amerika Serikat tersebut, Pimpinan Ma’had Daarul Muwahhid menyatakan alasan penolakannya. “Kedudukan Amerika Serikat secara syar’i adalah negara kafir harbiy fi’lan!” tegas alumnus Pondok Pesantren Raudutt Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.

Sebab, lanjutnya, Amerika telah nyata-nyata memerangi, bahkan membunuhi kaum Muslim di Iraq, Afghanistan, Pakistan, dan negeri-negeri Islam yang lain; serta menjadi sekutu setia negara teroris zionis, Yahudi Israel dalam melakukan perampasan negeri Islam dan tindakan-tindakan sadis Yahudi terhadap kaum Muslimin.

“Dan yang terakhir turut campur dalam infiltrasi politik di Mesir dan rencana penyerangan di Syiria!” ujar murid Mbah Cholil Bisri dan Gus Mus tersebut.

Berdasarkan fakta ini, maka, hubungan kaum Muslim di seluruh dunia dengan Amerika adalah hubungan perang (‘alaqatul harbiyyah).

“Karena itu, penguasa-penguasa negeri-negeri kaum Muslim secara syar’i dilarang menjalin hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, termasuk pula, tidak boleh ada kedutaan, konsul, dan perwakilan mereka di negeri-negeri kaum Muslim.”

Menurut ulama yang pernah menimba ilmu kepada sesepuh ulama Jakarta Mu’allim KHM Syafi’i Hadzami tersebut, kedatangan Obama ke Indonesia dalam konferensi APEC awal Oktober mendatang pun membawa agenda jahat.

“Kedatangan Barack Obama, dan manufer politik yang dilakukan dalam konferensi-konferensi untuk memantapkan imperialismenya!” ungkap Shoffar.

Menurutnya, agenda-agenda jahat AS dan Barat serta antek-anteknya di Asia Tenggara dititipkan melalui tangan-tangan Asian Development Bank, World Bank, IMF, dan sebagainya. Begitu juga dengan, Letter of Intent 2 yang dititipkan di RI dengan IMF tak lepas dari kepentingan tersebut.

Ia juga memprediksikan, kebijakan-kebijakan pemerintah RI seperti kelonggaran ekspor bahan baku, pajak yang rendah atas CPO, batubara, dan seterusnya adalah agenda yang akan dipaksakan dalam kehadirannya pada konferensi APEC ini.

“Termasuk agenda strategi intelligent deception dengan up-date isu terorisme adalah untuk menimbulkan instabilitas sehingga memperlemah ekonomi Indonesia!” ungkapnya.

Pekik takbir berulang terdengar di sela-sela pembacaan tausyiah, tanda dukungan penuh atas isi yang dibacakan. Selain Shoffar, sepuluh ulama dan tokoh yang sedari tadi duduk berjejer, turut menandatangani tausyiah tersebut.

Mereka adalah: Habib Khalilullah Al Habsy (Pimpinan Majlis Dzikir Imdadul Hadadi Jakarta Timur); KH Zainal Arifin (Penasihat PC NU Kab Pandeglang, Banten); KH Manshur Muhyiddin (Putra KH Yasin Beji dan Cucu Ki Wasyid Penggerak Geger Cilegon); KH Ali Bayanullah Al Hafidz (Pimpinan Majelis Taklim wal Tahfidzil Quran Darul Bayan, Citeureup, Sumedang, Jawa Barat); Ustadz Rokhmat S Labib (Ketua DP HTI); Ustadz Syamsuddin Ramadhan (Ketua DPP HTI); Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (Jubir HTI); KH Komaruddin HS (Ketua Perguruan Tinggi Silat Bandrong, Lampung); KH Abdi Idris (Ketua BKMM Cinere Depok) dan KH Sukhro Wardi (78 tahun, ulama sepuh Banten).[] Joko Prasetyo

Source: Religi