KH Ali Bayanullah Al Hafidz menyatakan momen haji digunakan Rasulullah SAW untuk aktivitas politik. “Mencari nushrah kepada ahlul quwwah agar mau masuk Islam dan menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi sehingga syariah Islam bisa tegak,” ungkap Pimpinan Majelis Taklim wal Tahfidzil Quran Darul Bayan, Sumedang, Jawa Barat seperti diberitakan Tabloid Media Umat Edisi 113, Jum’at (11-24/10).

Buah dari aktivitas thalabun nushrah tersebut, akhirnya Nabi Muhammad SAW mendapatkan para pembesar Madinah yang bersedia, sehingga Rasul dan para sahabat hijrah dan mendirikan Daulah Islam yang pertama di Madinah. “Itu mestinya menjadi teladan bagi orang-orang yang ibadah haji sekarang,” ungkapnya.

Jadi, menurutnya, ibadah haji tidak bisa lepas dari politik. Dengan politik makna ibadah haji akan sangat terasa. Sebab ketika dihubungkan dengan politik maka seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, berkumpulnya banyak orang di depan Ka’bah dijadikan lahan dakwah, untuk memahamkan orang akan pentingnya persatuan. Persatuan itu tidak hanya di Masjidil Haram saja tetapi bagaimana persatuan itu dibawa sampai ke rumah.

Terus terang saja, bebernya, pelaksanaan ibadah haji saat ini pada umumnya ya tidak bermakna. Cuma menggugurkan kewajiban haji saja. “Kan yang paling penting itu ketundukan kepada seluruh aturan-aturan Allah itu. Ibadah haji itu hanyalah salah satu bagian dari aturan Allah SWT. Jadi kita jangan hanya tunduk ketika thawaf saja, sa’i saja. Sementara sepulah ibadah haji, kita tidak berpolitik Islam. Kan sama saja bohong,” pungkasnya.[]Joko Prasetyo

Source: Religi