Idul Fitri telah usai. Kita teringat pada ungkapan ulama yang mengatakan, “Laysa al-‘îdu li man libâsuhu jadîd, walakinna al-îda li man thâ’atuhu tazîd (Idul Fitri itu itu bukan bagi orang yang pakaiannya baru, melainkan bagi orang yang ketaatannya bertambah).”

Kata kuncinya adalah taat. Pasca shaum Ramadhan dan Idul Fitri sejatinya setiap Muslim makin taat. Hakikat ini sejalan dengan hikmah shaum yang harus diraih, yaitu takwa.

Ada perumpamaan sederhana terkait takwa. Pernah Umar bin al-Khaththab ra bertanya kepada Ubay bin Kaab ra. tentang hakikat takwa. “Wahai Kaab, apa yang engkau pahami tentang takwa,” tanya Umar ra.

Ubay ra. malah balik bertanya, “Pernahkah engkau melihat duri di jalan?”

Umar ra. pun menjawab, “Ya, tentu saja.”

Ubay ra. bertanya lagi, “Apa yang engkau lakukan apabila di jalan yang engkau lalui banyak durinya?”

Umar ra. menjawab, “Aku akan berjalan dengan sangat waspada, hati-hati, agar tidak menginjak duri sehingga duri itu tidak mengenai aku.”

Ubay ra. segera berkomentar, “Itulah takwa.”

Hakikat ini menunjukkan bahwa orang yang bertakwa akan siaga penuh sehingga tidak melanggar aturan Allah SWT. Bila tidak, ia telah terkena duri berupa maksiat kepada Allah, Zat Yang Mahagagah.

Ali bin Abi Thalib kw. menjelaskan lebih filosofis makna takwa. Beliau menuturkan ada tiga unsur di dalam takwa. Pertama: al-khawf min al-jalîl (takut kepada Allah, Zat Yang Mahagagah). Kedua: al-‘amalu bi at-tanzîl (mengamalkan wahyu yang diturunkan). Ketiga: al-isti’dâdu li yawmi ar-rahîl (mempersiapkan diri untuk menghadapi Hari Kiamat). Takwa lahir dari keimanan, diwujudkan dalam bentuk pengamalan hukum Allah yang telah diwahyukan, dalam rangka meraih kebahagiaan pasca kematian.

Ketakwaan harus kontinu, terus-menerus. Kata Nabi saw., “Bertakwalah kamu dimana pun kamu berada.” Ketika di rumah seseorang akan bertakwa. Misalnya, tidak akan ia memperlihatkan aurat di depan anak-anaknya, seorang istri tidak akan menerima tamu laki-laki pada waktu suaminya tidak ada di rumah, keluarganya dijadikan sebagai tempat menyemai generasi shalih-shalihah pejuang syariah dan khilafah, dll. Begitu juga ketika di jalan, di kantor dan di tempat mana pun. Bahkan di ruang pengadilan, seorang yang bertakwa tidak akan memutuskan perkara dengan hukum Jahiliah. Pemutus perkara hanya ia ambil dari hukum syariah Islam. Demikian pula halnya dengan perundang-undangan, hanya akan diambil dari syariah Islam. Tidak yang lain.

Realitas menunjukkan, baru beberapa hari saja setelah Idul Fitri, Ketua SKK Migas tertangkap basah mendapatkan suap dari perusahaan asing. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan dia sebagai tersangka. Perungang-undangan terkait Migas dan pelaksanaannya makin jelas diperuntukan bagi kepentingan asing. Miliaran rupiah dana sudah mulai digelontorkan hanya sekadar untuk membangun citra demi Pemilukada dan Pemilu 2014. Berbagai momen halal bi halal dijadikan sebagai ajang kampanye. Penggusuran pun terus terjadi. Kaum miskin yang mengais hidup menjadi pedagang kaki lima (PKL) tak henti menghadapi kejaran Satpol PP. Sawah-sawah yang subur terus-menerus dikonversi menjadi pabrik dan hotel milik konglomerat dalam negeri dan asing. Kontes eksploitasi perempuan dalam ajang Miss World tak henti digelorakan di negeri Muslim terbesar ini. Hakikat ketakwaan jauh dari kenyataan. Ramadhan dan Idul Fitri seakan hanya sekadar menumpang lewat saja. Na’udzu bilLâhi min dzâlika.

Di luar negeri, sehari setelah Idul Fitri, militer Mesir bekerjasama dengan pihak penjajah Amerika Serikat (AS) membantai lebih dari 2000 Muslim. AS berupaya mengadu-domba dengan membuat perang sesama Muslim di negeri Kinanah itu. Jeritan anak Mesir memanggil ayahnya pulang pun sangat menyayat hati. Di sisi lain, kondisi Suriah belum membaik. Negara-negara kafir pimpinan AS terus berupaya mempertahankan diktator Bashar Asad. Keadaan kaum Muslim sangat memilukan. Saat kita makan ketupat, berbahagia di tengah keluarga dan sahabat dan mudik penuh ceria sekalipun dalam kemacetan, mereka berjuang melawan kebiadaban. Perempuan, anak-anak dan tua-renta harus berjuang melawan berbagai kesulitan. Air mata tak berhenti mengalir. Kata-kata ‘ukhuwah islamiyah’ yang digemakan dalam khutbah-khutbah Idul Fitri terasa hambar, kalau tidak boleh dikatakan hanya sekadar slogan.

Di mana letak kesalahannya? Kita memiliki dua benteng, namun tidak diterapkan. Kedua benteng itu akan menjadi pelindung bagi seluruh umat Islam. Benteng pertama adalah shaum. “Shaum itu adalah benteng,” sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Dengan shaum, seseorang dapat mengendalikan dirinya, dan menundukkan hawa nafsunya hingga menjadi nafsu yang dirahmati Allah SWT. Shaum menjadikan dirinya seorang hamba yang menaati hukum syariah Islam.

Benteng kedua adalah imam/khalifah. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Al-Imâmu junnatun (Imam/Khalifah itu adalah benteng).” Keberadaan Khilafah akan menghentikan perampokan kekayaan umat baik oleh penguasa dan pejabatnya maupun oleh penjajah asing. Khilafah akan menjaga akidah dan menerapkan syariah Islam; memelihara darah, harta dan kehormatan umat Islam; menghentikan kezaliman, ketidakadilan dan penjajahan; serta mewujudkan ukhuwah islamiyah dengan sebenar-benarnya. Benteng pertama merupakan benteng individual yang masih melekat dalam sebagian diri umat Islam. Namun, Khilafah sebagai benteng kedua belum kembali tegak.

Kisah masyhur menyebutkan bahwa di antara pesan Nabi saw. menjelang wafat adalah: ‘umatku, umatku, umatku’. Kita semua diminta untuk mengurusi umat ini. Padahal urusan umat tidak akan dapat sempurna dilaksanakan tanpa Khilafah. Oleh karena itu, salah satu wujud ketakwaan kita adalah terus berjuang menegakkan Khilafah. Saya merasa terharu mendapatkan doa dari beberapa pihak. Seorang tokoh aktivis dakwah, mantan anggota DPR yang tidak mau lagi untuk duduk di dalamnya, Pak Mashadi, menyampaikan kepada saya, “Semoga HTI diberikan keistiqamahan dan keberhasilan dalam berjuang menegakkan Khilafah.” Amin. Insya Allah.[ Muhammad Rahmat Kurnia; DPP Hizbut Tahrir Indonesia]

Source: Religi