HTI Press. Ahad, 6 Oktober 2013, Majelis Ta’lim Rindu Syari’ah Muslimah DPD I HTI Jawa Barat menggelar kajian umum dalam bentuk diskusi interaktif dengan tema “Meneladani Sosok Ismail: Cerminan Orang Tua dalam Mendidik Anak”, bertempat Mesjid Raya Bandung dan dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai tempat di Jawa Barat.

Hadir sebagai narasumber, Ustadzah Rasyidah Munir, Anggota Muslimah DPD I HTI Jabar. Di awal ceramahnya, beliau memaparkan bahwa keteladanan yang bisa kita ambil dari sosok remaja Ismail adalah keshalihan (ketaatan terhadap perintah Allah sebagai buah pemahaman terhadap hukum-hukum-Nya), kesabaran (penerimaan terhadap ketetapan Allah dengan penuh kerelaan yang dihasilkan dari ketaatan), dan keberanian (siap berkorban dan menanggung resiko karena meyakini kebenaran). Sungguh sosok Ismail jauh dengan gambaran remaja saat ini yang mayoritas lemah iman, rusak moral, terbawa arus, ‘pembebek’ gaya hidup Barat, emosional, konsumtif, pembangkang, arogan, keras kepala, kasar, pemaksa, rendah rasa malu, pengecut, dan pemalas.

Menurut beliau, yang dibutuhkan remaja saat ini agar bisa menjelma menjadi sosok seperti Ismail adalah Pertama, pembinaan orang tua, yang terkait aqidah (mengenal Allah, mencintai Nabi saw, mengharap surga, takut neraka, gemar membaca dan menghafal al-Qur’an, merasa selalu diawasi Allah dan malaikat-malaikat penjaga, yakin akan hari penghisaban, dll) dan syariah (terikat dengan hukum Allah, taat beribadah, terikat hatinya dengan masjid, menjalankan adab dan akhlak mulia, berpakaian Islami, bergaul Islami, mencintai kebaikan, membenci kemaksiatan, berani menolak keburukan yang ditawarkan padanya, berani mengajak pada kebaikan, dll). Kedua, masyarakat yang kondusif (membudayakan amar ma’ruf nahi munkar, bersikap tegas terhadap kemaksiatan, lantang melakukan muhasabah lil hukam, serius melakukan pembinaan), dan ketiga, negara yang serius mengurus umat (memberlakukan aturan Allah, menjamin pemenuhan semua kebutuhan rakyat, dan menyediakan sarana penyempurna kebutuhan hidup secara maksimal).

Pada sesi diskusi, diungkap bahwa kesabaran mendidik anak itu tiada batas karena sabar itu memang tidak terbatas; sabar itu kondisi mental yang harus dimiliki setiap muslim setiap saat tanpa akhir. Sabar pun meliputi penerimaan terhadap segala ketetapan Allah (takdir) berkaitan dengan kondisi anak dan keterikatan kita pada setiap ketentuan hukum syara dalam mendidik anak. Dalam sesi ini pula, nara sumber menegaskan bahwa jika kondisi ibu bekerja ke luar rumah untuk membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga menjadi alasan tidak optimalnya seorang ibu mendidik anak, maka itu menjadi alasan yang dibuat-buat karena menurut beliau peluang membuka usaha di rumah terbuka lebar bagi para ibu; jika harus bekerja, sudah selayaknya seorang ibu memutuskan pilihan bekerja di rumah saja sehingga tidak melalaikan kewajiban utama mengasuh dan mendidik anak. Selain itu, diungkap pula bahwa setiap ibu pasti diuji kesabarannya dalam mengendalikan emosi saat mendidik anak dan bisa jadi ujian kesabaran dari setiap anak berbeda gayanya. Beliau memberi nasehat agar seorang ibu senantiasa mendoakan anaknya dengan menyebut nama lengkap anaknya satu per satu sambil menangis. Jika tidak bisa menangis, dibuat suara kita seperti seolah menangis agar Allah melihat bahwa kita sangat penuh harap memohon pertologanNya.

Source: Religi