Pada hari Kamis (17/10), atau hari kedua yaumut tasyrîq, para jamaah haji melanjutkan ritual ibadahnya dengan melempar jumrah.

Syiar ibadah haji melempar jumrah ini menandakan pembebasan dari iblis, para pengikutnya, dan bahkan menjadikannya sebagai musuh.

Termasuk di antara pembebasan diri dari setan, adalah pembebasan diri dari kaum kafir, kolonialisme, para pengikutnya, dan semua rencananya.

Sehingga kontradiksi dengan ritual haji melempar jumrah, ketika kaum Muslim masih berjalan di dalam rencana-rencana Amerika, serta melaksanakan proyek-proyek di Suriah, Mesir, Libya, Yaman dan lain-lainnya. Juga kontradiksi dengan ritual haji melempar jumrah, apabila kaum Muslim meninggalkan syariah Allah, dan sebaliknya mengambil hukum-hukum thaghut, yaitu konstitusi sesat dan menyesatkan, atau menyerahkan penyelesaian persoalan kaum Muslim pada organisasi –kaum kafir— internasional.

Melempar jumrah adalah ritual yang tidak lepas dari ritual-ritual (syiar) ibadah haji lainnya, yang mengingatkan kaum Muslim bahwa keselamatan mereka hanya bisa diraih dengan berpegang teguh pada tali Allah (syariah Islam) yang kokoh, serta dengan membebaskan diri dari iblis, para pengikutnya, dan semua rencananya.

Sumber: pal-tahrir.info, 17/10/2013.

Source: Religi