Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman (TQS al-A”raf [7]: 27)..

Setan adalah musuh bagi manusia. Sebagaimana layaknya musuh, maka yang diinginkan setan terhadap manusia adalah kecelakaan., kesengsaraan, dan kerugian. Sebaliknya, dia tidak menyukai manusia mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Lebih dari itu, setan pun melakukan berbagai tipu daya untuk mewujudkan keinginannya. Realitas demikian mengharuskan manusia untuk hati-hati dan waspada terhadap bujuk rayu setan. Jangan sampai tertipu dan terpedaya oleh musuh Allah SWT itu. Kesengsaraan dan kerugianlah yang bakal didapat manusia jika mengikuti ajakan dan bisikannya.

Inilah di antara pesan penting ayat ini.

Waspada terhadap Setan

Allah SWT berfirman: Ya Banî Âdam lâ yaftinannakum al-syaythân (hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan). Khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada Banî Âdam. Jika dalam ayat sebelumnya diterangkan tentang telah diturunkannya pakaian buat manusia beserta kegunaannya dan tentang pakaian yang terbaik, maka dalam ayat ini manusia diperintahkan agar tidak tertipu oleh bujuk rayu setan.

Diterangkan al-Syaukani, sekalipun secara dhahir larangaan ayat ini ditujukan kepada setan: lâ yaftinannakum al-syaythân, namun sesungguhnya larangan tersebut ditujukan kepada Bani Adam. Bahwa mereka tidak boleh terjatuh dalam fitnah setan dan terpengaruh dengannya. Dijelaskan oleh al-Alusi, bahwa larangan tersebut berarti: Janganlah sekali-kali setan itu menjatuhkan kamu ke dalam fitnah dan bencana; dengan cara membisikkan kepada kamu sesuatu yang dapat mencegahmu masuk surga, lalu kamu mengikutinya.

Dalam Alquran kata fitnah menunjukkan kepada beberapa pengertian. Terkadang menunjuk kepada azab yang diterima manusia, seperti pada QS al-Dzariyat [51]: 13, 14). Terkadang bermakna sesuatu yang mengantarkan terjadinya azab, seperti dalam QS al-Taubah [9]: 49. Ada pula yang bermakna ikhtibâr (ujian atau cobaan), seperti QS Thaha [20]: 40, al-Ankabut [29]: 1-2, dan lain-lain. Dalam konteks ayat ini, kata fitnah berarti menyesatkan atau yang semakna dengannya.

Dikatakan al-Baghawi, ayat ini berarti berarti lâ yudhillannakum al-syaythân (janganlah sekali-kali setan itu menyesatkan kamu). Al-Samarqandi juga mengatakan bahwa: Janganlah sekali-kali setan itu dapat menyesatkanmu dari ketaatan kepada-Ku sehingga mencegahmu masuk surga. Tidak jauh berbeda, al-Nasafi juga memaknainya: Janganlah sekali-kali setan itu menipu dan menyesatkanmu agar tidak memasuki surga. Dengan sedikit perbedaan redaksi, al-Qurthubi memaknainya: Janganlah sekali-kali setan itu memalingkan kamu dari agama.

Dengan demikian ayat ini menerangkan kepada manusia agar tidak tertipu dan terpedaya oleh setan, sehingga menjadi tersesat dan terpalingkan dari agama-Nya, dan berakibat pad gagalnya mereka memasuki surga-Nya. Sebaliknya, justru terjerumus ke dalam neraka-Nya.

Perintah agar waspada terhadap tipuan setan ini cukup banyak disebutkan dalam beberapa ayat lainnya, seperti firman Allah SWT: Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (TQS al-Zukhruf [43]: 62). Juga QS Yasin [36]: 62.

Setelah diserukan agar tidak tertipu, terpalingkan, dan tersesatkan oleh setan, kemudian diingatkan dengan peristiwa yang telah menimpa bapak-ibu seluruh manusia, yakni Adam dan Hawa`. Dengan kelicikannya, setan berhasil menipu keduanya sehingga dikeluarkan dari surga. Allah SWT berfirman: Kamâ akhraja abawaykum min al-jannah (sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga).

Peristiwa tentang dikeluarkannya bapak-ibu manusia itu telah diberitakan dalam ayat-ayat sebelumnya. Dalam ayat 19 diberitakan tentang karunia Allah SWT yang diberikan kepada Adam dan istrinya. Keduanya dipersilakan untuk memakan semua yang ditemui di surga kecuali suatu pohon tertentu. Namun setan membisikkan tipuan kepada keduanya. Kepada Adam dan Hawa, setan mengatakan bahwa mereka dilarang mendekati pohon agar mereka tidak menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal di surga (ayat 20). Untuk meyakinkan keduanya, setan pun bersumpah bahwa dia benar-benar pemberi nasihat kepada keduanya (ayat 21). Dalam ayat lainnya, setan menyebut pohon itu sebagai syajarah al-khuldi (pohon keabadian, QS Thaha [20]: 120).

Akhirnya, Adam dan istrinya itu terbujuk oleh tipuan setan. Keduanya memakan buah yang dilarang untuk didekati itu. Akibatnya, keduanya pun dikeluarkan dari surga. Yang mengeluarkan keduanya dari surga sesungguhnya adalah Allah SWT. Akan tetapi dalam ayat ini peristiwa tersebut dinisbatkan kepada setan. Hal disebabkan keduanya tertipu oleh bujuk rayu setan yang menyesatkan sehingga menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga. Penisbatan kepada setan juga disebutkan dalam TQS al-Baqarah [2]: 36.

Kemudian Allah SWT berfirman: yannzi’u ‘anhumâ libâsahumâ liyuriyahumâ saw`âtihimâ (ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya). Sebagaimana menjadi penyebab dikeluarkannya Adam dan istrinya dari surga, maka setan juga menjadi penyebab ditanggalkan pakaian dari keduanya. Dengan memakan pohon yang terlarang itu, maka pakaian keduanya ditanggalkan dari tubuhnya. Allah SWT berfirman: Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga (TQS al-A’raf [7]: 22). Lihat juga dalam QS Thaha [20]: 21.

Peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi manusia. Mengikuti bujuk rayu setan hanya berujung kepada penderitaan dan kesengsaraan. Betapa pun bagus dan indahnya ajakan setan, sesungguhnya merupakan racun yang membahayakan bagi manusia.

Musuh Tak Terlihat

Kemudian Allah SWT memberitakan tentang posisi setan dan para pengikutnya dengan firman-Nya: Innahu yarâkum huwa wa qabîluhu (sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu). Dhamîr huwa (dia) pada kata innahu dalam ayat ini kembali kepada setan. Sedangkan qabîluhu bermakna shanfuhu wa jinsuhu (golongan dan bangsanya). Mereka adalah jin. Demikian penjelasan al-Thabari dalam tafsirnya. Menurut al-Qurthubi, qabîluhu berarti junûduhu (para tentaranya). Mujahid dan Qatadah menafsirkannya sebagai jin dan setan. Sedangkan Ibnu Zaid memaknainya sebagai keturunannya.

Dengan demikian, setan dan beserta keturunan, golongan, dan tentaranya itu dapat melihat manusia. Akan tetapi tidak sebaliknya. Manusia tidak bisa melihat mereka. Allah SWT berfirman: min haytsu lâ tarawnahum (dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka). Mereka bisa melihat manusia dari tempat yang tidak dapat dilihat manusia.

Diterangkan al-Alusii, kalimat ini merupakan ta’lîl (penjelasan sebab) bagi larangan sebelumnya. Juga sebagai ta`kîd (mengukuhkan) untuk waspada. Sebab, musuh jika datang dari arah yang tidak diketahui, tentu lebih berat dan menakutkan. Bahkan menurut al-Syaukani, kewaspadaan terhadapnya layak hingga puncak kewaspadaan.

Wali bagi Orang Tidak Beriman

Ayat ini kemudian diakhiri dengan firman-NyA: Innâ ja’alnâ al-syayâthîna awliyâ` li al-ladzîna lâ yu`mimanû (sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman). Pengertian awliyâ` di sini adalah qurunâ` wa a’wân[an] (teman dan pembantu). Demikian menurut al-Baghawi. Sedangkan Ibnu Jarir al-Thabari menafsirkan sebagai nusharâ (para penolong). Mufassir itu menafsirkannya ayat ini dengan ungkapan: Kami jadikan setan-setan itu sebagai penolong orang-orang kafir yang tidak mentauhidkan Allah dan membenarkan rasul-Nya.

Berkenaan dengan dijadikan-Nya setan sebagai kawan, pemimpin, dan penolong bagi orang kafir, menurutnya al-Jazairi dalam Aysar al-Tafâsîr, hal itu sesuai dengan sunnah-Nya dalam makhluk ciptaan-Nya. Bahwa setan itu merepresentasikan puncak keburukan dan kejahatan. Sedangkan orang-orang yang tidak beriman, hati mereka gelap lantaran tidak ada cahaya keimanan. Itu berarti menyediakan diri bagi setan dan segala kerusakan dan kejahatan yang dibisikkan setan kepada mereka seperti syirik dan kemaksiatan dengan aneka ragamnya. Oleh karena itu, kedekatan dan pertemanan antara setan dan orang kafir itu menjadi sempurna. Patut dicatat, siapa pun yang mengikuti setan, maka akan ditempatkan ke dalam neraka Jahannam (lihat QS al-A’raf [7]: 18).

Demikianlah. Manusia harus ekstra waspada kepada setan itu. Manusia jangan sampai tertipu dan terjerumus oleh tipu dayanya. Peristiwa diturunkannya bapak dan ibu manusia, Adam dan Hawa harus dijadikan sebagai pelajaran berharga manusia. Jika dahulu setan telah berhasil mengeluarkan bapak-ibu manusia dari surga, maka musuh Allah SWT itu berupaya keras untuk mencegah dan menghalangi anak cucunya bisa masuk surga.

Oleh karena itu, waspadalah dengan tipu dayanya. Janganlah mengikuti perintah dan ajakannya. Sebaliknya, manusia harus berpegang teguh pada petunjuk-Nya seraya selalu memohon pertolongan-Nya (lihat QS al-Mukminun [23]: 97). Semoga kita termasuk yang mendapat perlindungan-Nya dari godaan dan bisikan setan yang terkutuk itu. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Ikhtisar:

  1. Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia
  2. Manusia tidak boleh terpedaya oleh tipu daya dan bujuk rayunya.
  3. Kewaspadaan kepada setan harus semakin ekstra mengingat dia bisa melihat manusia, sedangkan manusia tidak melihatnya
  4. Setan merupakan kawan, pemimpin, dan penolong bagi orang-orang kafir

Source: Religi