Al-‘Allamah as-Syaikh Abdul Qadim Zallum, Amir Hizbut Tahrir ke-2, pernah menyatakan, “Di antara bencana paling mengerikan yang menimpa seluruh umat manusia ialah ide kebebasan individu yang dibawa oleh demokrasi. Ide ini mengakibatkan malapetaka global serta memerosotkan harkat dan martabat masyarakat sampai ke derajat yang lebih hina daripada binatang!”

Pernyataan ini terbukti. Indonesia—sebagai negeri Muslim terbesar yang menerapkan demokrasi—tahun 2013 ini didaulat untuk menjadi penyelenggara sebuah event porno berskala internasional. Inilah ajang Miss World. Kontes kecantikan internasional ini awalnya diselenggarakan sebagai festival kontes bikini.

Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang menjadi tuan rumah Kontes Miss World sepanjang sejarahnya. Namun, Miss World bukanlah kontes kecantikan internasional pertama yang diselenggarakan di Indonesia. Sebelumnya ada Miss ASEAN tahun 2005, International Man tahun 2007, Mister International 2010, dan Miss Coffee International tahun 2012 (Wikipedia). Ini artinya, Indonesia sudah menjadi lahan subur bagi upaya Barat untuk memerosotkan harkat dan martabat manusia.

Pro-Kontra Miss World

Meski banyak kalangan masyarakat Indonesia yang menolak, Kontes Miss World tetap direncanakan akan digelar. Karantina peserta akan dilaksanakan di Nusa Dua, Bali pada 4 – 15 September Puncak acaranya akan digelar di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Jabar, 28 September 2013. Umat Islam Bogor yang terdiri dari para ulama, umara dan aktivis dakwah dari berbagai ormas dan lembaga Islam dengan tegas menyatakan penolakannya atas rencana penyelenggaraan Miss World 2013. “Atas nama Ormas Islam Bogor, kami menolak acara ini diselenggarakan, apalagi di Bogor,” tegas Ketua MUI Kota Bogor, Adam Ibrahim pada 11/04/2013.

Di Jawa Timur, KH Abdu-Shomad Buchori, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, bersama Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur, secara resmi telah mengirim surat penolakan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah 52 Ormas Jawa Timur yang tergabung dalam GUIB ini menolak Miss World karena menilai acara ini merusak akhlak, kultur bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim.

Namun, dukungan beberapa penguasa pusat dan daerah tetap menguatkan ambisi penyelenggara Miss World. Serangkaian road show dilakukan penyelenggara Miss World 2013 untuk meyakinkan beberapa kalangan, bahwa mereka tetap akan menjunjung budaya dan nilai spiritualitas masyarakat Indonesia. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan ajang Miss World kali ini akan lebih sopan. Memang, di tahun ini, penyelenggara menetapkan tidak akan ada penggunaan bikini dalam kontes, melainkan diganti dengan sarung bali yang konon dalam rangka menghormati adat-istiadat Bangsa Indonesia.

Pendukung kontes-kontes kecantikan selalu berdalih bahwa ajang ini tidak hanya menonjolkan keindahan fisik perempuan. Chairwoman of Miss Indonesia Organization, Liliana Tanoesoedibjo, mengungkapkan bahwa Miss World 2013 sebagai ajang internasional wanita sedunia bukan hanya mengandalkan kecantikan, melainkan juga inner beauty dan jiwa sosial. Pernyataan itu diamini oleh anggota Komisi V DPR RI-FP Golkar Hetifah Sjaifudin yang mengatakan bahwa Miss World bisa menginspirasi perempuan Indonesia untuk berkepribadian sopan, berpenampilan menarik dan mampu berbicara dengan baik (Republika.co.id, 14/4/13).

Wajib Ditolak!

Apa pun dalih yang diungkapkan oleh para pendukungnya, kontes ratu sejagad ini tidak layak mendapatkan dukungan, apalagi dari kaum Muslim. Penolakan ini didasarkan pada sejumlah alasan.

1. Miss World melanggar hukum syariah.

Kontes Miss World ke-63 yang akan digelar di negeri Muslim terbesar di dunia ini, sekalipun akan menghilangkan ikon kontes bikini, tetap saja tidak akan menghilangkan ajang umbar aurat perempuan. Kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan tetap menjadi kriteria utama dalam penilaiannya. Dalam kontes ini perempuan menjadi objek yang dipertontonkan untuk hiburan bahkan kepuasan mata binal laki-laki yang menyaksikan lenggak-lenggok mereka di depan panggung. Setiap inci tubuh yang berbalut pakaian serba minim akan membawa decak kagum yang menjijikkan.

Salah satu kriteria Miss World adalah beauty with a purpose (cantik dengan tujuan). Faktanya, perempuan akan dinilai cantik jika bisa berpenampilan menarik di mana pun dia berada. Karena itu perempuan dituntut berpakaian menarik saat di pantai, sama menariknya saat berada di pasar atau dalam jamuan makan malam. Pastinya, yang menarik adalah yang berpakaian ala kadarnya.

Fenomena ini jelas melanggar hukum syariah Islam yang melarang perempuan mengumbar bagian tubuh (aurat)-nya di hadapan khalayak umum untuk dinikmati siapa saja yang bukan mahram-nya. Jangankan mempertontonkan tubuh dengan bahan yang serba minimalis, sengaja membanggakan dan memamerkan kecantikan wajah bukan aurat pun termasuk pelanggaran dalam Islam.

2. Miss World menghina perempuan.

Ajang Miss World yang digelar dalam rangka mencari ratu sejagat hanya akan fokus pada kecantikan tubuh perempuan. Kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan adalah kriteria utama dalam penilaiannya. Badan yang tinggi semampai jelas menjadi ukuran mutlak. Semua kontestan harus memenuhi syarat tinggi minimal 5 kaki 6 inci (sekitar 167 cm). Para kontestan pun diukur payudara, pinggang dan pinggulnya untuk diseleksi oleh para juri untuk memilih siapa yang memiliki ukuran ideal. Jadi walaupun konon penyelenggaraan Miss World 2013 di Sentul meniadakan sesi bikini, tiga ukuran vital kontestan akan tetap menjadi pertimbangan utama penjurian. Berat badan, warna kulit dan tekstur rambut yang bisa diubah dengan bimbingan ahli juga menjadi bahan pertimbangan. Semua harus sesuai kriteria miss world agar kelak mereka lebih bisa diterima di dunia modeling, aktris film, dan pelaku industri hiburan lainnya.

Pihak penyelenggara memang mengklaim adanya penilaian 3B (Brain, Beauty, Behavior). Namun, ini hanyalah lipstik. Pasalnya, Brain (kecerdasan) hanya dilihat dari kemampuan kontestan menjawab pertanyaan seputar masalah kekinian. Behaviour (kepribadian ) hanya diukur dari keterlibatan peserta dalam berbagi aktivitas sosial kemasyarakatan. Kedua kriteria ini hanyalah polesan. Kecerdasan dan kepribadian sesungguhnya tidak mungkin terukur hanya dalam sekejap selama kontes dilasaksanakan. Adapun Beauty (kecantikan)—yang dinilai berdasarkan keindahan fisik dan ukurannya yang proporsional—inilah yang menjadi porsi utama kemenangan kontestan.

Ketika ajang Miss World hanya melihat prestasi dan penghormatan perempuan pada kecantikan wajah dan seluruh tubuhnya semata, ini adalah penghinaan bagi perempuan yang berasal dari pemikiran Barat yang kufur. Pemikiran Barat memandang identitas dan nilai perempuan berdasarkan kecantikan fisik semata. Penampilan perempuan adalah tiket untuk mencapai sukses; bukan kecerdasan, karakter, keterampilan dan kontribusi perempuan kepada masyarakat. Perempuan pun diurutkan peringkat nilainya sesuai dengan tingkat daya tariknya, bukan karena kemampuan mereka.

3. Kapitalisasi tubuh perempuan.

Kontes Miss World menjadikan perempuan dan tubuhnya sebagai barang dagangan di atas panggung. Ibarat sebuah kapstok, tubuh perempuan dicantoli berbagai produk demi kepentingan bisnis. Panitia akan mencari sponsor untuk kontes sehingga kontestan mempromosikan komoditas dan produk bermerk tertentu. Demi kepentingan bisnis tersebut, Indonesia juga akan menggelar World Fashion Design Miss World 2013. Sebanyak 30 desainer akan mempresentasikan koleksi busananya. Terry Palmer sebagai produsen handuk terbesar di Tanah Air juga menjalin kerjasama sebagai sponsor Miss World 2013. Para pelaku usaha tersebut sepertinya ingin mengulang kesuksesan Sunsilk yang berhasil menguasai 60 persen pasar shampo di India setelah kontes tahun Miss World 2003 di negeri tersebut.

Pameran dan parade perempuan dalam ajang Miss World merangsang keuntungan dalam industri kecantikan, fashion dan rating media. Apalagi penonton di seluruh dunia masih menantikan acara ini, walaupun di negeri asalnya, saluran TV terestrial Inggris tidak lagi menyiarkan acara ini. Ajang ini akan disiarkan ke 140 negara. MNC Group menjadi Exclusive Patner yang akan memiliki hak siar penuh untuk Indonesia. Bisa dibayangkan, berapa banyak keuntungan yang ditangguk dari tayangan pameran tubuh perempuan ini.

4. Akomodasi budaya liberal.

Tak dapat dipungkiri, kontes ini sejatinya melanggengkan kolonialisasi Barat. Kontestan kecantikan selalu dianggap sebagai duta kebu-dayaan negara pemenang. Padahal globalisasi membawa homogenisasi budaya. Mereka membawa budaya Eropa Barat yang sebelum-nya tak dikenal di negara asalnya. Sesung-guhnya mereka bertugas mengangkat budaya asing itu agar menaikkan gengsinya, sekalipun cara hidup yang mereka bawa itu diajarkan oleh agama yang berbeda dengan yang mereka anut.

Jiwa sosial yang dilekatkan pada mereka sesungguhnya omong-kosong belaka. Menjadi duta kemanusiaan hanya sebagai cara untuk mengalihkan kontroversi kontes yang glamour. Ratu kecantikan harus diposisikan sebagai versi ideal dari feminitas. Baik kontestan, juri, dan penonton tahu bahwa para kontestan harus tampak seperti putri negeri dongeng yang baik hati, bersedia mengorbankan diri dan menem-patkan keprihatinan orang lain di atas kepentingan mereka sendiri. Tanya-jawab yang menentukan sang pemenang juga harus dimodifikasi agar sesuai dengan gaya hidup yang dianut para juri karena penentuan pemenang berada mutlak di tangan para juri.

Inner beauty yang digagas mereka adalah kecantikan (baca: kepribadian) yang sesuai dengan pemikiran kafir Barat. Mereka harus mampu melakoni westernisasi dengan baik. Disadari atau tidak, sesungguhnya para kontestan itu adalah agen liberalisasi masyarakat. Tidak hanya tubuh mereka yang mengalami perubahan dengan diet ketat dan serangkaian perawatan sesuai standar industri. Mereka juga harus mengubah diri seperti standar kekuatan sosial-politik tertentu, yakni Eropa atau AS. Yang paling sederhana, ukuran tutur kata mereka dinilai baik jika cara berbahasa mereka menggunakan aksen Inggris.

Membahayakan Umat

Saat ini banyak di antara kaum Muslim yang tidak menyadari mengapa ajang Miss World ini harus ditolak. Banyak Muslimah yang ikut-ikutan mendukung bahkan menjadikan para kontestan Miss World ini sebagai inspirasi mereka. Tidak hanya meniru gaya penampilan mereka, namun menjadikan tubuh mereka menjadi sarana untuk menghasilkan uang.

Kecantikan menjadikan perempuan lebih memuja raga daripada nilai agama. Mempertontonkan kemolekan tubuh, berhias, menggunakan bahan/alat/cara tertentu telah menjadi tren dunia kecantikan. Akhirnya, mereka terdorong untuk mengambil tindakan ekstrem sekadar untuk menyesuaikan diri dengan kecantikan “ideal” ala World Miss ini. Mereka rela menjalani bedah kosmetik yang mengancam jiwanya, atau sengaja membiarkan dirinya kelaparan agar memiliki bobot ideal. Mereka terperangkap dalam gaya hidup hedonis materialis tanpa memikirkan apakah hal itu dilarang atau tidak dalam agama. Tentu, ini berbahaya sekali bagi keberlangsungan umat. Akan menjadi apa generasi ini jika kaum perempuannya sudah rusak dan merusak.

Sayangnya, bahaya gaya hidup kaum perempuan yang semakin hedonis dan merendahkan martabat ini tidak disadari oleh para penguasa di negeri ini. Jika di tengah arus penolakan ajang Miss World ini penguasa tetap tidak mampu mencegah penyelenggaraannya di Indonesia, berarti negara telah gagal menjaga moralitas bangsa. Negara lebih memihak kepentingan industri kosmetik, fesyen dan media yang mengambil untung dari ajang kepornoan ini.

Padahal Survey Pew Research Mei 2013 menyimpulkan bahwa 72% penduduk Indonesia menginginkan penerapan syariah dan menolak gaya hidup liberal Barat. Semestinya negara mendukung keinginan masyarakat tersebut dengan menciptakan suasana kondusif dan mendidik, bukan membiarkan penyelenggaraan kontes porno yang akan menjadi penghinaan bagi aspirasi umat untuk tegaknya syariat Islam. WalLahu a’lam. [Yusriana; DPP Muslimah HTI]

Source: Religi