HTI Press, Bogor. Kamis (17/10) pengurus DPD 2 HTI Kota Bogor, yang dipimpin oleh Gus Uwik (Ketua DPD 2 HTI Kota Bogor) bersama tim Lajnah Fa’aliyyah, seperti M. Irfan (Ketua LF), Ray Iskandar (Tim LF), Nashrullah (Tim LF) dan Firmansyah Abu Zaky (Tim reportase LF) menyambangi Kejaksaan Negeri Kota Bogor. Kedatangan HTI Kota Bogor diterima langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bogor, Yudhi Sutoto SH. Didampingi oleh M. Fatturahzi, Kasie Intel Kejari Kota Bogor dan Kasei Pidum.

Dalam kesempatan pertama, M. Irfan selaku Ketua LF menyampaikan bahwa HTI kota Bogor sebagai bagian dari elemen masyarakat dan kaum Muslim di kota Bogor, mempunyai keinginan untuk melihat kondisi bogor yang lebih baik, baik masyarakatnya, termasuk aparat penegak hukumnya. Oleh karenanya HTI tidak hanya membahas persoalan yang menyangkut “keagamaan” semata namun juga membahas dan member solusi terhadap persoalan sosial, politik, ekonomi dan yang lainnya.

“Kami menjalankan firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 104. Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat, yang menyeru kepada kebaikan (Islam), mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah termasuk orang-orang yang mendapatkan keberuntungan,” ungkap M. Irfan.

Selanjutnya Gus Uwik menyampaikan keluhan masyarakat tatkala HTI bersentuhan dengan masyarakat bawah terkait persoalan korupsi. Terutama kasus terakhir yakni dengan terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan 3 pilar penyokong demokrasi, yakni Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif.

“Masyarakat akhirnya pesimis. Ada yang menyakan mau dibawa kemana negeri ini? Masa depan semakin suram. Aparatur Negara dan para pejabat seringkali menipu rakyat dengan janji-janjinya sebelum menduduki jabatan. Namun ketika telah menjabat malah korupsi. Bagi HTI, yakin bahwa kondisi akan semakin baik jika kita mampu mengelola negeri ini dengan amanah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada kita selaku hamba-Nya,” jelanya.

Tokoh muda bogor ini selanjutnya menambahkan dewasa ini korupsi semakin meningkat dan mengkhawatirkan, mulai level daerah (kota/kab), provinsi hingga tingkat pusat. Di pusat terungkap kasus Century, Hambalang, Simulator SIM, Impor daging sapi, SKK Migas dan tertangkap tangannya ketua MK. Kemendagri Gamawan fauzi bahkan mengaku sedih karena banyak pejabat dan kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi. Sedangkan untuk level kota bogor terungkap kasus APBD Gate, dan yang sekarang sedang hangat diperbincangkan terkait kasus TPPA Kayumanis dan pembangunan Masjid Raya.

Pertanyaannya adalah kenapa kasus korupsi, kolusi, suap menyuap dan sebagainya semakin terus berkembang subur? Apakah ini hanya sebatas persoalan person saja, ataukah karena sistem?

“Menurut HTI ada beberapa aspek yang harus dilakukan sehingga korupsi dan turunannya bisa diberantas secara tuntas. Pertama karena faktor person, yaitu lemahnya iman dan taqwa. Seseorang dapat dengan mudah berbuat salah, apalagi ketika mendapatkan jabatan. Ini karena lemah iman. Padahal jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT, bukan saja takut kepada KPK atau orang banyak,” jelas Gus Uwik.

Persoalan keimanan masyarakat semakin parah tatkala Negara berlepas tangan terhadap ‘pembinaan’ umat dalam persoalan keimanan ini. Negara tidak membuat aturan yang ‘memaksa’ individu-individu masyarakat untuk mempunyai keimanan yang mantap, seperti aturan yang mewajibkan setiap orang untuk mengkaji syariat Islam setiap hari, dll.

Sedangkan aspek kedua adalah aparat yang tidak mudah terbeli dengan uang. Aparat penegak hukum, baik Polisi, Jaksa dan Hakim tidak mudah terbeli oleh godaan-godaan syahwat, seperti kedudukan dan uang. Aspek ketiga adalah hukuman yang membuat jera dan membuat orang lain berpikir seribu kali untuk melakukan kejahatan yang sama. Saat ini hukuman bagi para pelaku tindak kejahatan, terutama korupsi dan turunannya yang sangat ringan.

Dalam Islam, bagi para pencuri yang sudah melebihi nishab (ukuran-red)