HTI Press. Jumat pagi, (04 Oktober 2013) pengurus DPD 1 MHTI Sumatera Barat, yang dipimpin langsung oleh Ratna Hijriyah (Ketua DPD), bersama rombongan dari Lajnah Fa’aliyah Setri Muharni dan Siska Resti diterima oleh bagian umum Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPr dan KB) SUMBAR, Ibu Elviza. Tim diterima di ruang kerja kepala BPPr dan KB SUMBAR.

Dalam sesi awal, Ibu Ratna menyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan ibu Elviza menerima kunjungan dari MHTI. Ibu Elviza mengaku sangat senang dapat bertemu dengan pengurus MHTI.

Di kesempatan itu, Ibu Ratna memaparkan realitas perempuan dalam sistem demokrasi saat ini. Banyak perempuan yang terpaksa dan dipaksa untuk bekerja. Seorang ibu sudah memikul tanggung jawab yang besar sebagai ummu wa rabbah al bait, namun kondisi saat ini memaksa ibu harus ikut memikul tanggung jawab mencari nafkah. Hal tersebut tentu saja akan menurunkan kualitas pembinaan ibu terhadap anak. Bahkan berdampak kepada ketahanan keluarga. Setri Muharni menambahkan, tingginya gugat cerai di SUMBAR yang dulu dianggap sesuatu yang tabu saat ini telah terjadi. Ibu Elviza membenarkan realitas tersebut.” Tugas ibu sangat berat, apalagi melihat kondisi para remaja saat ini yang sangat memperihatinkan. “Saya sangat senang dengan MHTI karena MHTI berbeda dengan ormas lain. MHTI peduli terhadap generasi” ungkap beliau.

Ibu Elviza mengaku prihatin terhadap kondisi generasi saat ini. Banyak yang pengangguran, padahal usia mereka produktif. Beliau menyoroti tingginya minat masyarakat khususnya pemuda untuk ikut CPNS. Padahal jumlah pendaftar 10x lipat jumlahnya dari kuota penerimaan CPNS. Ibu Ratna menanggapi bahwa tingginya angka pengangguran di SUMBAR adalah suatu ironi. Di satu sisi pemerintah SUMBAR membuka peluang investasi sebesar-besarnya kepada perusahaan besar asing. Misalnya Rumah Sakit Siloam. Sementara, warga daerahnya memilih merantau menjadi buruh di kota-kota besar hingga menjadi TKI/TKW ke luar negeri karena sulitnya lapangan pekerjaan dan anggapan bahwa daerahnya tidak produktif. “Kondisi yang sangat menyedihkan, padahal sumberdaya alam di SUMBAR sangat melimpah” respon Ibu Elviza. “Memang sangat perlu pembinaan kepada umat, termasuk para pemuda. Ibu senang dengan pembinaan yang dilakukan MHTI” Tambah beliau lagi. “Itulah salah satu aktifitas dakwah Hizbut Tahrir sebagai partai politik Islam. Politik dalam arti mencermati bagaimana pengaturan urusan umat” tegas Bu Ratna.

Pada kesempatan itu, Siska Resti menyerahkan merchandise terkait perdagangan bebas menghancurkan ketahanan keluarga, eksploitasi perempuan atas nama pemberdayaan ekonomi, juga pernyataan Hizbut Tahrir Indonesia terkait penyelenggaraan KTT APEC Economic Leader’s Week pada tanggal 1-8 Oktober 2013 di Bali. Siska menegaskan bahwa APEC ditujukan untuk menjadikan wilayah Asia Pasifik sebagai pasar bebas. Indonesia turut menandatangani kesepakatan itu. Sementara perdagangan bebas terbukti telah membuahkan PHK dan kemiskinan. Kemiskinan menjadi penyebab tidak dapat berjalannya fungsi keluarga. dimunculkanlah pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai solusi. Jadilah para perempuan/ibu sebagai pencari nafkah keluarga dengan bekerja. Jelas ini bukan penyelesaian masalah kemiskinan keluarga, namun justru menimbulkan masalah baru yang menyebabkan fungsi utama sebagai ibu generasi menjadi terganggu seperti yang telah dibahas di awal. Selain itu, realisasi APEC akan memperkuat dominasi negara maju terhadap negara berkembang. Di samping akan membuka ruang eksploitasi termasuk eksploitasi perempuan.

Source: Religi