tanggung jawab suami terhadap istri

Selamat Pagi Pembaca setia Beam charged, Pada kesempatan kali ini Saya akan mencoba berbagi tulisan tentang tanggung jawab suami terhadap istri. Sebelumnya, saya ingin Tanya dulu kepada para Pembaca, bagaimana menurut Pembaca berkaitan dengan pernyataan berikut:

“Ingin membentuk keluarga Ideologis Islam dengan Suami yang sholeh yang bertanggung jawab baik untuk agamaku, untuk kehidupanku dan untuk masa depanku.”

Bagaimana menurut Anda? Bingung? Iya bingung, jika kita memang belum tahu detail tentang ini. Akan tetapi, Jika sudah tahu tidak tidak ada lagi kata bingung.

Pembahasan berkaitan tentang ini bisa kita rinci 1 per 1 pada setiap poin pentingnya:

  1. Membentuk Keluarga Ideologis Islam
  2. Suami yang sholeh
  3. Bertanggung Jawab baik untuk Agamaku
  4. Bertanggung Jawab baik untuk Kehidupanku
  5. Bertanggung Jawab baik untuk Masa Depan-Ku

Berikut bisa Penulis Share Penjelasannya:

1. Membentuk Keluarga Ideologis Islam

Sebelum kita membahas tentang keluarga, taukah kita tentang ideologis? Menurut sumber dari ArtiKata.com, Ideologis adalah menyangkut atau berkenaan dengan ideology. Di dunia ini ada 3 ideologi, yaitu: Kapitalisme (kufur), Komunisme (kufur), dan Islam (Benar). Nah, dalam point ini yang diambil adalah Islam dalam membentuk keluarga. Nah, bagaimana cara membentuk keluarga Ideologis Islam?

Pertama, pondasi dasar dari pernikahan tersebut adalah akidah Islam. (Aqiqah)

Dengan menjadikan Islam sebagai landasan, maka segala sesuatu yang terjadi dalam keluarga tersebut dikembalikan pada Islam.

Kedua, adanya visi dan misi yang sama antara suami-istri tentang hakikat dan tujuan hidup dalam berkeluarga, karena dan untuk Islam serta menjalaninya dengan peraturan Islam. (visi&misi)

Ketiga, memahami dengan benar fungsi dan kedudukan masing-masing suami dan istri dalam keluarga dan berupaya semaksimal mungkin menjalankannya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. (fungsi&kedudukan)

Keempat, menjadikan Islam dan syariatnya sebagai solusi terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarganya. Halal-haram dijadikan landasan dalam berbuat, bukan hawa nafsu. (islam sebagai solusi)

Kelima, menumbuhsuburkan amar makruf, nahi mungkar di antara sesama anggota keluarga sehingga seluruh anggota keluarga senantiasa berjalan pada rel Islam. (Wajib)

Keenam, menghiasi rumah dengan membiasakan melakukan amalan-amalan sunnah, seperti membaca al-Qur’an, bersedekah, mengerjakan shalat sunnah, dan sebagainya. (Sunnah)

Ketujuh, senantiasa memanjatkan doa kepada Allah dan bersabar dalam situasi apapun. (sabar&doa)

2. Suami yang sholeh

Berikut merupakan cirri-cirinya:

a. Mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya

b. Mendirikan rumahtangga karena Allah SWT
c.  Menerima kelemahan isteri dan tidak meminta sesuatu yang di luar kemampuan isteri
d. Memberi nafkah yang halal
e. Bertanggungjawab menjaga dan mendidik keluarga dengan Islam

3. Bertanggung Jawab baik untuk Agamaku

Mengambil Islam sebagai Jalan Hidup berkeluarga, mulai mengatasi masalah sampai mendidik dengan Islam hingga Akhir Hayat. Merealisasikan Perintah Allah untuk tetap berislam hingga akhir hayat.

 4. Bertanggung Jawab baik untuk Kehidupanku

Bertanggung jawab atas nafkah lahir dan batin untuk menghidupi dan menjalankan keluarga dengan jalan yang halal dalam Islam.

5. Bertanggung Jawab baik untuk Masa Depanku

Bertanggung jawab pada masa depan yang akan terjadi, yaitu:

1. Bertanggung jawab dalam menghadapi masalah suami-istri

Ribut dalam keluarga, masalah kecil, misal: miskomunikasi, dll sebagainya itu pasti ada. Nah untuk menyelesaikan itu, maka saya ambi konsep dalam Islam. Apa itu? Rosul SAW bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi:

“Ingatlah, bahwa aku telah menyampaikan kepada Istri-istri yang akan masuk surga, yaitu: yang penyayang, yang subur(banyak anak), yang banyak memberikan manfaat pada suaminya, yang ketika dia menyakiti atau disakiti oleh suaminya, maka dia berlari dalam pelukan suaminya, kemudian berkata: wahai suamiku aku tidak akan bisa memejamkan mata hingga engkau meridloiku.”

2. Bertanggung jawab dalam dakwah

Maka jalan yang kemudian saya tempuh adalah fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan menuju ridlo Allah. Misal: Dalam dakwah, Ibadah sunnah, mendidik Anak menjadi pejuang syariah dan khilafah, dll.

3. Mungkin ada yang mau menambahi?