HTI Press.Jakarta- Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng menyebutkan tiga bukti nyata dampak kerja sama ekonomi Asia Fasifik (APEC) bagi Indonesia. “Indonesia terjebak dalam triple defisit dan tidak mempunyai jalan keluar,” tegasnya dalam talkshow Halqah Islam dan Peradaban (HIP) Edisi 48, Kamis (3/10) di Wisma Antara, Jakarta.

Pertama, defisit perdagangan. Hal ini terjadi lantaran Indonesia membuka kran liberalisme perdagangan selebar-lebarnya seperti yang dimandatkan perjanjian APEC 1994. Sehingga terjadi defisit perdagangan. “Hal ini tidak dapat diatasi kecuali dengan semakin memperbesar impor,” ungkapnya mengungkap solusi keliru yang diambil pemerintah.

Kedua, defisit neraca pembayaran. Karena impor semakin besar melampai ekspor terjadilah defisit neraca pembayaran sehingga menguras devisa. Akibatnya semakin tergantung pada investasi asing dan utang.

Ketiga, defisit fiskal. Karena devisa sudah terkuras maka, Indonesia semakin memperbesar utang. Hal ini terjadi lantaran investasi asing yang ada sebagain besarnya berupa investasi non riil (hot money), sehingga dengan mudah, kapan saja, dapat ditarik lagi ke negara asalnya. Maka dengan mudah pula terjadi krisis moneter dan memperbesar utang.

Salamuddin pun menegaskan, dampak perjanjian APEC yang dilaksanakan di Bali awal Oktober 2013 ini pun akan semakin memperburuk kondisi perekonomian Indonesia. Pasalnya, Amerika sekarang sedang dilanda krisis. Celakanya, Indonesia sudah terjebak dalam krisis Amerika.

“Amerika krisis, maka investasinya di luar negeri akan ditarik, termasuk yang di Indonesia,” ungkapnya dalam acara yang bertema Qou Vadis APEC, Indonesia Untung atau Buntung?

Ia pun mengungkapkan Singapura adalah investor terbesar pertama dan Amerika investor terbesar ketiga di Indonesia. “Sedangkan Singapura, sebagian besar uangnya adalah milik Amerika,” beber Salamuddin di hadapan sekitar 250 peserta.

Maka, lanjutnya, untuk menyelamatkan Amerika dari krisisnya, selain menarik investasinya, Amerika pun akan semakin mengeksploitasi Indonesia.[] (Mediaumat.com 04102013)

Source: Religi