Liqo-Syawal-08

HTI Press, Banjarbaru. Penerapan syariat Islam dalam bingkai Daulah Khilafah yang menjadi ide besar Hizbut Tahrir kian mendapat dukungan dari kalangan ulama dan tokoh di Kalimantan Selatan.

Tak kurang dari 900 tokoh dan ulama dari Kota Banjarbaru, Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan hadir dalam Liqo Syawal 1434 H yang digelar di Ponpes Nurul Ma’ad Landasan Ulin Kota Banjarbaru.

Pimpinan Ponpes Nurul Ma’ad, Ustadz Ahmad Ramadhan dalam keterangannya di hadapan ratusan tokoh, ulama dan mubaligoh menyatakan, Hizbut Tahrir Indonesia merupakan Ormas yang ikhlas memperjuangkan tegaknya syariat Islam di bumi Allah SWT.

Menurutnya, tidak mungkin syariat akan dijalankan secara kaffah tanpa adanya Daulah Khilafah Islamiyah. “Syariat Islam tidak mungkin tegak tanpa adanya kepemimpinan yang satu umat Islam yakni Khalifah,” ujarnya.

Salah satu tokoh, Drs Sofyan Tasrifin menyatakan tanpa Khilafah, umat Islam semakin tenggelam. Saat ini katanya, paham demokrasi masih diadopsi. Padahal demokrasi merupakan paham yang sesat dan salah yang dikembangkan oleh tokoh Rusia JJ Rosso.

“Dalam demokrasi, apabila maling bersatu maka satu orang kyai kalah, karena berdasarkan suara terbanyak. Dalam demokrasi saja, maling di dalam penjara itu diberi makan. Padahal dalam Islam, maling itu dipotong tangannya tidak diberi makan,” ungkapnya.

Pengasuh Ponpes Nurul Ma’ad Banjarbaru, Ustadz Abdul Hafidz mengatakan dalam kitab-kitab kuning banyak membahas tentang imamah atau pemimpin. Imamah katanya sinonim dari Khilafah, kepemimpinan umum umat Islam.

Dikatakannya, apa yang dilakukan Hizbut Tahrir sama dengan apa yang dilakukan para ulama terdahulu. Dan memperjuangkan diterapkannya syariat Islam dalam bingkai daulah Khilafah bukan hanya dilakukan Hizbut Tahrir, namun dilakukan oleh seluruh umat Islam.

“Alhamdulillah saya sudah mengaji bersama Hizbut Tahrir Indonesia. Saya menemukan banyak solusi atas problematika umat saat ini,” cetusnya.

Cendikiawan Muslim Dosen Fakultas Kehutanan Palangkaraya, DR Ir Wahyudi menyatakan, saat ini umat Islam hidup layaknya yatim piatu semenjak tiada Khilafah. Karenanya menegakan Khilafah adalah kewajiban agar Islam bisa diterapkan secara kaffah.

“Dalam Islam tidak ada kata berhenti dalam menerapkan Islam dalam bingkai Khilafah. Haram hukumnya apabila kita menghalangi penegakan Khilafah. Dukung Hizbut Tahrir, kalau tidak mau mendukung jangan menghalang-halangi,” ungkapnya di hadapan ratusan ulama dan tokoh.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, DR Mahmud MT mengatakan fakta yang telah terjadi, Khilafah Islam telah berdiri tegak 1.300 tahun. Banyak kemajuan pada saat itu, dan barat mengetahuinya karena itu kaum kafir menutupi fakta itu.

Dan Sekarang umat Islam seperti buih di lautan, dimainkan oleh angin karena tidak memiliki kepemimpinan yang satu yakni seorang khalifah.

Ketua Lajnah Fa’aliyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia, DR Muhammad Rahmat Kurnia mengatakan, ulama adalah pewaris para nabi. Ulama itu orang yang paling takut kepada Allah SWT.

“Kalau dahulu Nabi Muhammad SAW berjuang menegakan syariat Islam, seharusnya sekarang ulama berada digaris terdepan. Kewajiban menerapkan syariat Islam bukan hanya kewajiban Hizbut Tahrir, tapi kewajiban seluruh umat Islam,” ujarnya. [] MI HTI Kalsel


Liqo-Syawal-010
Liqo-Syawal-011
Liqo-Syawal-012
Liqo-Syawal-013
Liqo-Syawal-014
Liqo-Syawal-015
Liqo-Syawal-016
Liqo-Syawal-017
Liqo-Syawal-018
Liqo-Syawal-019
Liqo-Syawal-020
Liqo-Syawal-021
Liqo-Syawal-022
Liqo-Syawal-01
Liqo-Syawal-02
Liqo-Syawal-03
Liqo-Syawal-04
Liqo-Syawal-05
Liqo-Syawal-06
Liqo-Syawal-07

Source: Religi