New York : Islam adalah agama kesetaraan dan tidak ada bias di dalamnya, karenanya merupakan propaganda palsu terhadap Islam dan kaum Muslim jika mengatakan Islam tidak memperlakukan kaum perempuan dengan setara. Bahkan, Islam memberikan kesetaraan hak bagi perempuan di abad ke-7 dan perempuan di Barat memperoleh hak yang sama di abad 19 dan 20, mereka hidup tanpa kesetaraan selama hampir 13 abad.

Fakta-fakta tentang Islam sedang disorot oleh halaman multimedia di website untuk Women’s Rights National Historical Park (Taman Sejarah Nasional Hak-hak Kaum Perempuan), New York. Lembaga itu menyoroti kampanye hak-hak perempuan dan telah mebuat serangkaian 3 video berseri dengan para siswi dari Annur Islamic School setempat.

Video itu menyediakan forum bagi para siswi untuk mengatakan tentang Islam dan mengadu tentang bagaimana mereka diperlakukan. Para siswi itu juga menyatakan keyakinan mereka tentang tabiat dan perilaku mereka sendiri.

Salah seorang siswi mengatakan, “Orang-orang mengira bahwa Islam menindas kaum perempuan dan tidak ada kesetaraan, namun mereka salah – ada kesetaraan… di abad ke-7 Masehi, Islam memberikan kaum perempuan hak untuk terlibat dalam politik, hak untuk mendapatkan dan menyimpan uangnya sendiri.”

“Islam memberikan kaum perempuan hak untuk bekerja di luar rumah, Islam memberikan kaum perempuan hak untuk memiliki harta, Islam memberikan kaum perempuan hak untuk bercerai, Islam memberikan kaum perempuan hak untuk memilih dengan siapa dia ingin menikah,” tambahnya .

“Islam memberikan kaum perempuan sejumlah hak yang diperoleh kaum perempuan Barat belakangan di abad 19 dan 20, dan kami telah memiliki hak-hak itu sejak abad ke -7 Masehi, dan hal itu tidak hanya diakui di seluruh dunia,” katanya.

The Independent Journal Review memberi komentar bodoh dengan menyatakan “adalah hal yang fantastis National Park Service ada di sana, dengan menggunakan uang para pembayar pajak, memperbaiki citra yang salah tentang kaum Muslim, seperti reaksi keras dari Ikhwanul Muslimin terhadap Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Perempuan ” atau “penolakan negara-negara Muslim terhadap ‘hak-hak kaum gay’ pada satu forum HAM PBB.”

“Bagus, National Park Service sedang melakukan pekerjaan yang tidak akan dilakukan oleh orang lain ! – mempertahankan sejarah kontribusi Islam bagi pembebasan kaum perempuan” katanya menambahkan.

Dalam salah satu video, seorang siswi mengeluh tentang diskriminasi, “Beberapa tahun lalu mereka mengadakan acara Idul Fitri, yakni satu hari libur bagi sekolah sehingga orang-orang bisa beristirahat. Orang-orang mengatakan mengapa harus berubah, ini adalah negara Kristen. Kita seharusnya tidak merubahnya. Namun, jika anda membaca Konstitusi, ada pemisahan antara negara dan gereja. Jadi, mereka mengatakan jika anda pergi ke sebuah negara Arab, mereka tidak akan memiliki hari libur untuk Natal tapi di sini kita akan berlibur untuk Idul Fitri dan Ramadhan dan semacamnya. Ini adalah pemisahan yang sesungguhnya dari negara dan gereja dan mereka tidak mengerti hal itu dan mereka berpikir karena mayoritas AS adalah orang Kristen maka kita tidak bisa sama dengan orang lain.”

The Women’s Rights National Historical Park, didirikan pada tahun 1980, yang memiliki sekitar tujuh hektar tanah. Taman ini mencakup empat properti sejarah, yang salah satunya adalah Gereja Wesley, yang merupakan situs Konvensi Hak Perempuan yang pertama.

Lembaga itu mengatakan bahwa gerakan yang berusaha mengakhiri diskriminasi berdasarkan ras, agama dan orientasi seksual “semuanya terkait dalam memperjuangkan hak-hak sipil dan HAM.”

“Women’s Rights National Historical Park mengakui upaya-upaya bukan hanya para pendukung Hak-Hak Perempuan, tapi juga semua orang yang berjuang untuk mendapatkan hak-hak sipil dan asasi manusia di Amerika Serikat dan di seluruh dunia ,” tambahnya. (rz/http://www.islamonline.com/news/articles/2/Islam-awarded-rights-to-women-in-7th-century.html/30/9)

Source: Religi